Daeng Arung adalah pembuat kapal yang namanya dikenal di sepanjang pesisir. Tangannya kasar oleh garam dan kayu, matanya tajam membaca arah serat, dan hatinya tertambat pada laut. Sejak muda ia membangun perahu bagi nelayan, pedagang, dan siapa saja yang menggantungkan hidup pada ombak. Namun satu kapal berbeda dari yang lain kapal pinisi yang ia bangun selama empat tahun, dengan kesabaran yang nyaris seperti merawat anak sendiri.
Ia memilih kayunya dari hutan terbaik, mengeringkannya berbulan-bulan, lalu menyatukannya dengan pasak demi pasak. Setiap malam ia mengelus lambung kapal itu, seolah memastikan tak ada luka yang tersembunyi. Ia menamai kapal itu Samudra Hati.
“Ini bukan sekadar kapal,” katanya suatu hari pada muridnya. “Ini rumah bagi harapan orang-orang.”
Ketika kapal itu akhirnya berlayar, Daeng Arung ikut mengantarnya sampai batas pelabuhan. Ia berdiri lama, memandangi layar yang membesar tertiup angin. Ada kebanggaan, ada juga kecemasan yang tak bisa ia jelaskan.
Hari-hari berlalu. Laut tetap sibuk, nelayan tetap pulang dengan tangkapan, dan bengkel kayu Daeng Arung kembali dipenuhi suara palu. Hingga suatu sore, seorang pelaut datang tergesa, wajahnya pucat, napasnya terputus-putus.
“Daeng… kapalmu… Samudra Hati…”
Jantung Daeng Arung berdegup kencang.
“Ada badai besar di tengah lautan. Angin memutar arah, ombak setinggi bukit. Kapal itu… terbelah dua.”
Kata-kata itu seperti memukul dadanya. Ia tak menjawab. Tangannya gemetar, matanya menatap kosong ke laut yang tampak tenang dari pantai.
Malam itu ia duduk sendiri di dermaga. Angin asin menyentuh wajahnya, dan suara ombak terdengar seperti ratapan. Dalam bayangannya, ia melihat kapal itu kembali, layarnya berkibar, kayunya berderit, dan dirinya berdiri di geladak sambil tertawa. Namun bayangan itu hancur oleh kenyataan.
“Maafkan aku,” bisiknya, entah pada kapal itu atau pada dirinya sendiri. “Aku sudah merawat mu sebaik mungkin.”
Kesedihan Daeng Arung bukan sekadar kehilangan benda. Ia merasa seolah sebagian jiwanya ikut tenggelam. Setiap pasak yang dipasang, setiap goresan yang dihaluskan, semua adalah waktu dan cinta yang tak bisa diganti.
Beberapa hari ia tak menyentuh alatnya. Bengkel kayu sunyi, hanya debu yang menari di sela cahaya. Orang-orang datang menghibur, tapi ia hanya mengangguk pelan.
Hingga suatu pagi, seorang anak nelayan mendekat sambil membawa potongan kayu kecil yang terdampar.
“Daeng, ini dari kapal yang hancur, ya?” tanyanya polos.
Daeng Arung menatap kayu itu. Ia mengenali seratnya. Tangannya menyentuh permukaan yang kasar oleh laut, lalu memeluknya seperti sesuatu yang hidup.
Saat itu, ia menyadari sesuatu: kapal memang bisa hancur, tapi ilmu dan cinta yang membangunnya tidak ikut tenggelam.
Ia berdiri, menarik napas panjang, lalu kembali ke bengkelnya. Palu diangkat, pahat diasah. Bunyi kayu dipotong kembali terdengar, pelan tapi pasti.
Dan di bawah langit pesisir yang luas, Daeng Arung mulai merangkai kapal baru, dengan hati yang masih sedih.(*)


