vfRLx8H2uqdqBCqTEItJFZCD3xp6D4LE2kPIUYxS

Jejak Sai Batin di Bandakh Badak: Riwayat Adat, Tragedi, dan Perebutan Legitimasi

Di wilayah pesisir Lampung, sistem adat Sai Batin menjadi penopang struktur sosial yang menempatkan garis keturunan sebagai fondasi kepemimpinan. Di tengah lanskap perbukitan dan aliran sungai Way Awi, berdiri kisah panjang Bandakh Badak, sebuah wilayah adat yang jejak sejarahnya terhubung dengan Tanjung Agung dan Kuta Dalom, Way Lima.

Menurut penuturan sejumlah tokoh masyarakat Kuta Dalom dan Badak, eksistensi Bandakh Badak telah dikenal sejak awal 1900-an. Pada masa itu, figur sentral yang dihormati adalah Sri Agung/Dalom Pengikhan Junjungan Khatu Makhga, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Dalom Haji Mustopa.

Dalom Haji Mustopa disebut sebagai anak tertua dari Khaja dan pernah berada di Kaokh Gading sebelum kembali ke Badak. Kepulangannya inilah yang kemudian memicu dinamika internal. Sebagian pihak menginginkan pengangkatan Sai Batin baru di Way Awi, sementara kelompok lain menegaskan bahwa pusat asal Bandakh Agung berada di Tanjung Agung yang masuk wilayah Kuta Dalom, Way Lima.

Dalam silsilah yang berkembang di masyarakat, garis keturunan juga menyebut Mas Ngakhujung hingga generasi ke-7, yakni Hadriyanto dari Kuta Dalom, Way Lima. Nama lain yang tercatat dalam narasi adat adalah Khaja Bangsawan Kimas Cahaya Batin, yang terhubung melalui ikatan pernikahan dengan keluarga Mas Ngakhujung.

Tahun 1965 menjadi babak krusial dalam sejarah Bandakh Badak. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Kuta Dalom melibatkan tokoh Minak Batin dan Khaja Kesuma. Peristiwa ini disebut-sebut memicu pembentukan struktur baru “suku kiri” dan “suku kanan” di Kuta Dalam.

Dampaknya tidak sekadar administratif, melainkan menyentuh legitimasi adat. Sebagian keturunan menganggap bahwa tragedi tersebut mengakibatkan terputusnya mata rantai kepemimpinan Sai Batin Badak yang sah.

Pasca-1965, sejumlah figur muncul dan mengaku sebagai tokoh adat di Kuta Dalom, Marga Badak. Di antaranya terdapat nama yang oleh sebagian masyarakat dinilai tidak memiliki legitimasi genealogis sesuai garis Sai Batin. Polemik ini berkembang hingga memunculkan perdebatan panjang tentang siapa yang berhak menyandang gelar Sai Batin dan memimpin struktur adat.

Sebagian kalangan menyebut bahwa pengangkatan Sai Batin baru pada 1965 sarat kepentingan politik lokal. Sementara kelompok lain memandangnya sebagai langkah penyelamatan adat dalam situasi sosial yang genting.

Hari ini, kisah Bandakh Badak bukan hanya tentang sejarah berdirinya sebuah wilayah adat, melainkan juga tentang memori kolektif, identitas, dan perjuangan menjaga legitimasi tradisi. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Marga Badak masih menyimpan narasi tentang Sri Agung, Dalom Haji Mustopa, Mas Ngakhujung, hingga peristiwa 1965 sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan Sai Batin. Perseteruan anak keturunan Mas Ngakhujung, Gimbakh Kumala dan Khaja di Bandakh.

Sejarah itu hidup dalam tutur lisan, silsilah keluarga, dan diskusi panjang tentang adat yang belum sepenuhnya usai. (*)
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar