Perkembangan konflik antara melawan dan menunjukkan eskalasi signifikan. Analis geopolitik Ben Huzer menilai perang ini telah memasuki fase “total hybrid war” dengan implikasi luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah tetapi juga terhadap stabilitas global.
Konflik disebut mulai terbuka sejak 28 Februari 2026 melalui operasi militer gabungan AS–Israel bertajuk . Serangan ini menandai perubahan pola perang dari konvensional menjadi multi-domain.
Karakter utama konflik saat ini meliputi serangan lintas sektor, mulai dari udara, siber, hingga penggunaan kelompok proxy seperti . Selain itu, strategi “decapitation strike” atau eliminasi elite militer dan politik Iran juga menjadi bagian penting dalam operasi tersebut.
Secara militer, AS dan Israel dinilai unggul dalam teknologi dan intelijen. Sistem pertahanan seperti dan mampu meredam sebagian besar serangan balasan Iran. Bahkan, target strategis seperti yang menjadi pusat energi Iran dilaporkan berhasil diserang.
Namun demikian, Iran masih memiliki kekuatan asimetris yang signifikan. Negara tersebut terus melancarkan serangan menggunakan drone, rudal balistik, serta mengandalkan jaringan proxy di kawasan. Salah satu tekanan terbesar adalah potensi gangguan di , jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Dari sisi tujuan strategis, ketiga pihak memiliki kepentingan berbeda. Israel berupaya menghilangkan ancaman nuklir dan melemahkan rezim Iran. Amerika Serikat fokus menekan pengaruh Iran tanpa memicu kekacauan total di kawasan. Sementara Iran mengedepankan strategi bertahan sambil meningkatkan biaya perang bagi lawan.
Eskalasi konflik juga mulai meluas ke kawasan lain, termasuk Lebanon dan Teluk. Aktivitas Hezbollah meningkat, sementara serangan mulai menyasar wilayah strategis di negara-negara sekitar. Hingga kini, dan Uni Eropa masih menahan diri untuk tidak terlibat langsung.
Dampak global pun mulai terasa, terutama di sektor energi. Gangguan distribusi minyak berpotensi memicu kenaikan harga serta mengganggu jalur pelayaran internasional, yang pada akhirnya meningkatkan risiko krisis energi global.
Dalam proyeksi ke depan, terdapat tiga skenario utama. Pertama, konflik berkepanjangan tanpa pemenang jelas (stalemate). Kedua, kemungkinan runtuhnya rezim Iran meski berisiko memicu kekacauan besar. Ketiga, eskalasi menjadi perang regional jika jalur vital seperti Selat Hormuz benar-benar ditutup atau Amerika Serikat terlibat penuh.
Secara keseluruhan, konflik ini bukan lagi soal kemenangan cepat, melainkan pertarungan daya tahan. Dalam perspektif geopolitik, perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat kini lebih mencerminkan strategi attrition dan coercion, di mana masing-masing pihak berupaya melemahkan lawan secara bertahap sambil meningkatkan tekanan global.(*)


