Raja yang memerintah kala itu dikenal arif, namun ketenarannya kelak dilanjutkan oleh putra tunggalnya, Raden Badako. Sejak kecil, Raden Badako ditempa dalam adat dan keprajuritan: ia mahir memainkan pedang, piawai menunggang kuda, serta memahami hukum adat marga yang menjadi sendi pemerintahan di tanah Andalas purba. Parasnya tampan, perawakannya tegap, dan tutur katanya lembut perpaduan yang membuat rakyat menaruh harapan besar kepadanya.
Pada suatu perhelatan adat yang mempertemukan para pemimpin marga dari pedalaman hingga pesisir, Raden Badako berjumpa dengan seorang putri bangsawan bernama Ratu Marga. Ia adalah perempuan cerdas, putri dari keturunan pemangku adat yang berpengaruh di wilayah perbatasan timur kerajaan. Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan dua insan, melainkan pertautan dua garis kekuasaan.
Ratu Marga memiliki lima saudara laki-laki: Mas Tanjung yang cakap berdiplomasi, Kumala yang tegas dan ambisius, Hanya Mas yang licik namun pandai membaca peluang, Agung yang gemar berperang, Tegal yang keras hati, serta Penghulu yang menguasai hukum adat dan agama. Keenam bersaudara ini berasal dari satu rahim kebangsawanan yang kuat, terbiasa memandang kekuasaan sebagai hak yang harus diperjuangkan.
Pernikahan Raden Badako dan Ratu Marga disambut meriah. Upacara adat digelar tujuh hari tujuh malam. Genderang perang dan tabuhan kulintang bersahut-sahutan, menandai bersatunya dua wilayah besar dalam satu payung kekuasaan.
Seiring waktu, wilayah kekuasaan Raden Badako meluas. Dari hulu sungai hingga pesisir, dari perbukitan hingga ladang lada yang menjadi komoditas utama, semuanya berada di bawah panji kerajaan. Namun luasnya wilayah membawa persoalan: pemberontakan kecil di perbatasan, perompak di jalur sungai, serta persaingan antar marga yang sulit dikendalikan dari pusat istana.
Menyadari keterbatasannya, Raden Badako mengambil keputusan politis. Ia membagi wilayah kekuasaan kepada kelima saudara iparnya. Masing-masing diberi daerah untuk dikelola atas nama kerajaan, dengan sumpah setia di hadapan balairung dan para tetua adat.
Mas Tanjung memerintah wilayah pesisir.
Kumala menguasai dataran tinggi.
Hanya Mas menjaga jalur perdagangan.
Agung memimpin pertahanan perbatasan.
Tegal dan Penghulu mengatur wilayah pedalaman dan urusan adat.
Keputusan itu semula menenangkan kerajaan. Rakyat merasa lebih dekat dengan penguasa wilayah masing-masing. Namun di balik kesetiaan yang diikrarkan, benih ambisi mulai tumbuh.
Dari pernikahannya, Raden Badako dikaruniai seorang putra bernama Buyung. Pangeran kecil itu menjadi cahaya istana. Para tetua melihat dalam dirinya darah raja dan kebijaksanaan ibunya. Namun usianya masih belia ketika takdir berbalik arah.
Raden Badako jatuh sakit. Tabib istana dari pedalaman hingga pesisir dipanggil. Ramuan akar hutan dan doa-doa adat dipanjatkan. Tetapi sakit itu tak kunjung sembuh. Dalam sebuah malam sunyi yang hanya ditemani pelita dan tangis tertahan, sang raja menghembuskan napas terakhirnya.
Karena Pangeran Buyung masih kecil, pemerintahan sementara dipegang oleh kelima saudara Ratu Marga. Awalnya mereka bersatu atas nama stabilitas. Namun kekuasaan yang tak lagi diawasi raja berubah menjadi perebutan pengaruh.
Kumala dan Hanya Mas mulai merancang siasat. Agung mengerahkan pasukan setianya. Tegal dan Penghulu memainkan hukum adat untuk melegitimasi langkah mereka. Perlahan, posisi Ratu Marga dan Pangeran Buyung terdesak di istana sendiri.
Akhirnya, dengan dalih menjaga keselamatan kerajaan dari “kutukan perebutan takhta”, mereka memutuskan menyingkirkan ahli waris sah. Pada suatu malam tanpa bulan, Pangeran Buyung yang masih kecil digendong ibunya keluar dari gerbang belakang istana. Dengan pengawalan tipis dan hati hancur, mereka dibuang ke hutan lebat di pinggiran wilayah kekuasaan.
Di tengah rimba Andalas yang liar tempat sungai berkelok dan kabut turun setiap senja Ratu Marga bersumpah akan menjaga putranya hingga dewasa. Ia menanamkan kisah kejayaan ayahnya, adat leluhur, dan haknya atas takhta yang dirampas.
Sementara di istana, lima penguasa wilayah mulai saling mencurigai. Kerajaan yang dulu kokoh perlahan retak oleh ambisi.
Konon, dari hutan itulah kelak Pangeran Buyung tumbuh menjadi sosok yang ditempa alam dan pengkhianatan. Dan sejarah Andalas bagian selatan kembali bergetar ketika darah sah kerajaan bangkit menuntut takhta yang direnggut oleh tipu daya.
Demikianlah kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut di tanah Sumatera sebuah cerita tentang cinta, kekuasaan, dan pengkhianatan di bawah bayang-bayang kejayaan kerajaan tua Andalas.
Terbaru
Lebih lama


