vfRLx8H2uqdqBCqTEItJFZCD3xp6D4LE2kPIUYxS

Nurul Hilal, Jurnalis Desa yang Menjaga Suara Rakyat dari Pringsewu


Di tengah derasnya arus informasi digital dan dinamika politik lokal yang terus bergerak, nama Nurul Hilal tumbuh sebagai salah satu sosok jurnalis muda yang dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Bagi sebagian orang, ia dikenal sebagai wartawan. Bagi masyarakat desa, ia adalah tempat bertanya dan menyampaikan keluhan. Sementara di lingkungan organisasi pers, Hilal dikenal sebagai figur yang konsisten menjaga komunikasi antarwartawan dan pemerintah daerah.

Pria yang kini menjabat sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Pringsewu (FKWKP) periode 2026–2029 itu menjalani profesinya bukan sekadar untuk mengejar berita. Ia memilih jalan jurnalistik sebagai ruang pengabdian sosial—tempat suara masyarakat kecil bisa didengar dan persoalan desa tidak tenggelam di balik hiruk-pikuk politik daerah.

Dalam kesehariannya, Hilal tidak hanya berkutat di ruang redaksi atau menghadiri agenda pemerintahan. Ia juga aktif turun langsung ke desa-desa sebagai pendamping lokal desa di Kecamatan Pringsewu. Peran ganda itulah yang membuatnya memiliki perspektif berbeda dibanding banyak jurnalis lain. Ia memahami bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan di tingkat bawah, sekaligus melihat langsung bagaimana masyarakat menghadapi persoalan riil seperti kemiskinan, stunting, pembangunan infrastruktur, hingga transparansi penggunaan dana desa.

“Media tidak boleh jauh dari rakyat. Wartawan harus hadir di tengah persoalan masyarakat,” menjadi prinsip yang kerap ia pegang dalam aktivitasnya sehari-hari.

Menjaga Marwah Pers Daerah

Terpilih kembali sebagai Sekretaris FKWKP menjadi bukti bahwa Nurul Hilal dipercaya oleh rekan-rekan seprofesinya. Di organisasi tersebut, ia dikenal sebagai sosok komunikatif yang mampu menjembatani hubungan antara wartawan, pemerintah, dan masyarakat.

Bagi Hilal, pers daerah memiliki tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, wartawan dituntut kritis terhadap kebijakan pemerintah. Namun di sisi lain, media juga harus mampu menjaga ruang dialog agar pembangunan daerah tetap berjalan sehat dan transparan.

Ia memandang media bukan sebagai alat oposisi, tetapi mitra kritis pemerintah. Menurutnya, fungsi kontrol sosial harus dilakukan secara profesional, berimbang, dan berbasis data, bukan sekadar membangun sensasi.

Pendekatan itu membuatnya cukup dikenal di berbagai kalangan, mulai dari aktivis desa, aparat pemerintahan, hingga masyarakat umum. Ia sering dilibatkan dalam forum diskusi sosial, konsultasi masyarakat, bahkan mediasi persoalan yang melibatkan kepentingan warga.

Fokus pada Isu Stunting dan Transparansi Desa

Salah satu isu yang banyak mendapat perhatian dari Hilal adalah persoalan stunting di desa. Baginya, stunting bukan sekadar angka statistik pemerintah, melainkan persoalan masa depan generasi.

Melalui perannya sebagai pendamping desa, ia aktif mendorong edukasi masyarakat terkait pola asuh, gizi anak, dan penguatan program ketahanan pangan desa. Ia juga ikut mengawal agar program-program pembangunan desa benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Di berbagai kesempatan, Hilal menilai bahwa transparansi penggunaan dana desa menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan. Karena itu, ia kerap mendorong keterbukaan informasi publik serta partisipasi warga dalam pengawasan pembangunan desa.

Pendekatan yang ia gunakan pun cenderung humanis. Ia lebih memilih dialog langsung dengan masyarakat dibanding pendekatan formal yang berjarak. Hal itu membuat dirinya mudah diterima di lingkungan desa.

Jurnalisme yang Membumi

Bagi Nurul Hilal, menjadi wartawan bukan hanya soal menulis berita cepat atau mengejar viralitas. Ia percaya bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan empati dan keberpihakan terhadap kepentingan publik.

Dalam berbagai liputannya, ia dikenal sering mengangkat isu sosial, pelayanan publik, hukum, dan dinamika pembangunan daerah. Gaya peliputannya cenderung lugas, namun tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.

Di tengah perubahan lanskap media digital yang serba cepat, Hilal tetap percaya bahwa kepercayaan publik adalah modal utama seorang jurnalis. Karena itu, ia berusaha menjaga integritas profesi dan membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak.

Bagi masyarakat Pringsewu, Nurul Hilal bukan sekadar wartawan. Ia adalah representasi jurnalisme lokal yang tetap membumi—hadir di tengah masyarakat, mendengar keresahan warga, sekaligus mengawal arah pembangunan daerah agar tetap berpihak pada kepentingan publik.(*)
Related Posts
Terbaru Lebih lama
Nurul Hilal
Bang Hilal bernama lengkap Nurul Hilal, C.B.J., C.EJ.,C.Par adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31178-LSPR/Wda/DP/XI/2025/08/11/73

Related Posts

Posting Komentar