vfRLx8H2uqdqBCqTEItJFZCD3xp6D4LE2kPIUYxS

Mepadun: Penobatan Martabat, Kepemimpinan, dan Tanggung Jawab dalam Adat Lampung Pepadun


Upacara Mepadun, yang juga dikenal sebagai Cakak Pepadun, Naik Pepadun, atau Munggah Bumi, merupakan salah satu prosesi adat paling sakral dalam masyarakat Lampung Pepadun. Tradisi ini bukan sekadar seremoni pemberian gelar adat, melainkan sebuah proses peneguhan legitimasi sosial, kepemimpinan, serta tanggung jawab moral seseorang di tengah masyarakat adat.

Prosesi diawali dengan Cangget Mepadun, ketika seorang Pegawo yang telah berkeluarga secara adat menampilkan tarian adat (ngigel) sebagai simbol kesiapan memasuki fase kehidupan yang lebih tinggi. Keesokan harinya, Pepadun diarak menuju Sesat atau balai adat, dilanjutkan dengan prosesi Ngerabbo, hingga sang Pegawo duduk di atas Pepadun sebagai tanda pengukuhan kedudukannya. Puncaknya adalah penganugerahan gelar adat kepada Pegawo beserta istrinya (Tualo Anau/Inggeman), yang menandai lahirnya tanggung jawab baru dalam menjaga marwah adat dan kehidupan masyarakat.

Dalam tradisi Lampung, Pepadun bukan sekadar kursi kebesaran, melainkan simbol otoritas adat, kebijaksanaan, keadilan, serta amanah kepemimpinan. Duduk di atas Pepadun berarti menerima kepercayaan masyarakat untuk menjadi teladan dalam menjaga hukum adat, menyelesaikan persoalan, serta memelihara persatuan.

Secara historis, Pepadun dibuat dari kayu pilihan yang berasal dari pohon besar di hutan adat. Pembuatannya melalui tahapan adat yang panjang, mulai dari Tandang Kayew (mencari kayu), Nuwar Kayew (menebang), Narah Kayew (membentuk balok), Ngulangken Kayew (membawa pulang kayu), Ngeguai Pepadun (mengukir menjadi singgasana), hingga Nyakaken (menaikkan Pepadun ke Sesat). Keseluruhan proses tersebut menunjukkan penghormatan masyarakat Lampung terhadap alam, gotong royong, dan nilai-nilai spiritual yang menyertai setiap karya budaya.

Bentuk Pepadun yang bertingkat juga memiliki makna simbolik, menggambarkan tingkatan kedudukan adat sesuai dengan peran dan tanggung jawab seseorang dalam struktur kepemimpinan masyarakat.

Dalam prosesi Mepadun, Pepadun lazim ditutupi menggunakan Kain Andak berwarna putih atau dipadukan dengan Kain Bidak. Penutupan ini merupakan bagian dari tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap kesakralan Pepadun serta keyakinan adat mengenai perlunya menjaga diri dari potensi "Nyengek", yaitu mara bahaya yang diyakini berasal dari alam yang tidak kasat mata. Praktik tersebut mencerminkan cara masyarakat adat memaknai hubungan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual dalam kehidupan budaya mereka.

Pada hakikatnya, Mepadun mengajarkan bahwa gelar adat bukanlah simbol kemuliaan yang berdiri sendiri. Gelar merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kebijaksanaan, keteladanan, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam adat, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya.

Di tengah arus modernisasi, pelestarian Upacara Mepadun menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya Lampung. Tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sumber nilai yang relevan bagi kehidupan masa kini: kepemimpinan yang berintegritas, penghormatan terhadap musyawarah, semangat gotong royong, serta keseimbangan antara manusia, adat, dan alam.

Melestarikan Mepadun berarti menjaga jati diri masyarakat Lampung sekaligus merawat kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.(*)
Related Posts
Terbaru Lebih lama
Nurul Hilal
Bang Hilal bernama lengkap Nurul Hilal, C.B.J., C.EJ.,C.Par adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31178-LSPR/Wda/DP/XI/2025/08/11/73

Related Posts

Posting Komentar